Kamis, 31 Januari 2008

Fungsi Rumah Bagi Keluarga

Kenyataan sering menunjukan bahwa begitu banyak orang yang merindukan berumah tangga menjadi sesuatu yang teramat indah, bahagia, dan penuh dengan pesona. Bahkan tak jarang kenistaan, perceraian, dan juga derita. Na’udzubillahi min dzalik.

1. Rumah Sebagai Pusat Ketenangan Jiwa

Sudah selayaknya bila rumah tangga itu dapat menjadi pangkalan batin dan pangkalan ketenangan jiwa, sehingga ketika suami sudah berlumur keringat, besimbah peluh, bekerja dengan keras, ia akan selalu merindukan pulang ke rumah. Karena baginya rumah adalah sumber ketenangan dan ketentraman yang tidak akan diperoleh dalam hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari.

2. Rumah Sebagai Pusat Ilmu

Rumah tangga yang akan ditingkatkan derajatnya oleh Allah SWT ternyata bukan rumah tangga yang memiliki kedudukan tinggi. Bahkan sebaliknya, tidak jarang krdudukan tinggi itulah yang menghinakan. Tidak jarang pula kekayaan yang banyak akan membuat sebuah rumah tangga ”dimiskinkan” oleh keinginan-keinginan diperbudak dan dinistakan oleh apa yang dimiliki.

3. Rumah Sebagai Pusat Nasihat

Rumah tangga yang akan bahagia itu adalah rumah tangga yang dengan sadar menjadikan kebiasaan saling menasehati, saling memperbaiki, serta saling mengoreksi dalam kebenaran dan kesabaran, sebagai kekayaannya.

4. Rumah Sebagai Pusat Kemuliaan

“Khairun naas anfauhum linnas,” sebaik-baik diantara manusia adalah manusia yang paling banyak memanfaatkannya. Maka demikian pula, sebaik-baik keluarga adalah keluarga yang paling banyak manfaatnya

Peran Suami dan Istri

Allah menciptakan laki-laki dan wanita masing-masing lengkap dengan software dan hardware-Nya. Laki-laki dengan ototnya, kegagahan, juga kebutuhan fisik dan fsikis didalamnya yang berbeda dengan wanita. Sedangkan wanita diciptakan dengan kegemarannya bersolek perasaannya yang lemah lembut dsb. Semua itu adalah pasangan serasi yang saling melengkapi.

Demikian pula wanita dan laki-laki, masing-masing akan ada harganya kalau memang memiliki cirri yang seharusnya, sesuai dengan fitrahnya masing-masing.

1. Peran suami

Pemimpin Rumah Tangga

Suami sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga harus mampu menjaga sikapnya. Jangan sampai bertindak melebihi dari yang dipimpinnya.

Pelindung Keluarga

Suami sebagai tulang punggung keluarga di ibaratkan seorang nahkoda kapal laut, yang harus mampu menggendalikan dan mengelola bahtera rumah tangga dalam mengarungi badai kehidupan.

2. Peran istri

Menjadikan Rumah Surga Bagi Keluarga

Seorang istri harus bisa menjadikan rumahnya bagaikan surga, meski hanya tinggal di kontrakan yang kecil. Rumah dibuatnya menjadi tempat yang paling menyenangkan bag seluruh anggota keluarga

Siap Melahirkan Anak

Kaum wanita dimuliakan kedudukannya disisi Allah SWT. Karena mereka ditakdirkan untuk mengandung dan melahirkan seorang anak manusia kemuka bumi ini.

Bekal Utama Berumah Tangga

Terlebih lagi dalam bekal-bekal ilmu agama yang membawa keluarganya begitu mempesona dan penuh berkah, sehingga senantiasa diterangi oleh cahaya Ilahi. Pendek kata, keluarga Nabi SAW adalah keluarga islami yang benar-benar sakinah, mawaddah, warahmah. Niatkanlaha menikah semata-mata sebagai jalan untuk menyempurnakan ibadah kita kepada Allah. Oleh karena itu, sebelum menikah diperlukan persiapan-persiapan yang maksimal jangan sampai setelah menikah timbul penyesalan-penyesalan.

Adapun kunci sebetulnya terletak pada Persiapan. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa persiapan yang baik akan selalu lebih dekat kepada hasil yang baik pula. Yang selayaknya menjadi pikiran kita adalah, kita harus siap kalau Allah menakdirkan kita untuk menikah. Seperti seorang jago karate, yang dipikirkannya bukan soal berkelahnya, melainkan persiapannya. Berkelahinya itu sendiri belum tentu terjadi, tetapi berlatih untuk dapat membela diri, tentu harus dilakukan semaksimal mungkin.

Begitupun dalam persiapan menikah. Pertanyaannya, persiapan macam apa saja yang harus kita lakukan? Tentu saja bermacam-macam. Ibarat kita mau mendirikan sebuah bangunan, tentu harus dipersiapkan rancangannya, biayanya, mental pembangunnya, dll. Membangun mahligai rumah tangga juga demikian. Mengapa? Sebab istri kita pasti berbeda jenisnya dengan kita, itu pasti. Orangtuanya berbeda. Latar belakangnya berbeda, hobinya berbeda, dan mungkin masih banyak lagi perbedaan-perbedaan lain.

Selasa, 15 Januari 2008

Menuju Kelurga Sakinah

Setiap orang tentu mendambakan bisa hidup di sebuah Negara yang aman, tentram, dan penuh berkah. Sebagaimana setiap orang juga pasti merindukan hidup bahagia dalam sebuah jalinan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hanya saja perlu digaris bawahi bahwa sebuah Negara yang penuh berkah tampaknya tidak akan terwujud apabila tidak ditopang oleh pilar-pilar rumah tangga yang berkah pula. Di dalam keluarga seperti ini akan ditemukan kehangatan dan kasih sayang yang wajar, tiada rasa tertekan, tiada ancaman, dan jauh dari silang sengketa serta perselisihan. Dalam keluarga semacam inilah akan tumbuh ketenangan batin bagi seluruh anggota keluarganya, sehingga tercipta ketenangan yang diliputi mawaddah, warahmah. Atau cinta dan kasih sayang. Sayangnya, kadang-kadang kita tidak sangat serius menentukan visi keluarga. Bercengkerama dengan keluarga saja sisa tenaga, sisa pikiran, semua serba sisa. Lantas apa yang dapat diperoleh dari sesuatu yang serba bisa?

Tidak sedikit suami yang menganggap pendidikan anak hanyalah tanggung jawab istri, sedangkan kewajibannya sebagai suami mencari nafkah. Seharusnya, seorang suami lebih serius lagi untuk menjadi suri teladan bagi keluarganya. Jangan sampai menimbulkan kekecewaan pada anak terhadap figur ayahnya. Tidak perlu merasa bangga jika telah menjadi suami yang bisa membuatkan sebuah rumah mewah bagi keluarga, membelikan mobil, atau menanggung semua biaya hidup mereka.

Bila sang ibu bisa bersikap lembut, maka seorang ayah juga jangan kalah lembutnya walau harus tetap tegas. Saat memanggil istri, jangan sampai seorang suami menggunakan panggilan sembarangan. Karena walau bagaimanapun, seorang anak pasti mempunyai kebanggaan terhadap ibunya.

Sebaiknya, Ayah dan Ibu di rumah berlomba-lomba memberi contoh bagaimana dapat saling memuliakan suami dan demikian juga sebaliknya. Kegigihan orang tua dengan serius membuat program suri teladan bagi anak-anaknya adalah sebuah pendidikan yang tidak ternilai. Hal ini insya Allah akan membantu sebuah keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya.secara sistematis,seorang ayah harus terus menambah ilmu dan mencari dana lebih banyak untuk memperbaiki akhlak keluarganya.

Sudah waktunya kita menyadari bahwa runtuhnya suatu bangsa diawali dari hancurnya tatanan rumah tangga di masyarakatnya.untuk mencapai keluarga atau rumah tangga yang di berkahi Alloh,tentu di perlukan persiapan ilmu dan pengetahuan yang cukup.

Menuju Kelurga Sakinah

Setiap orang tentu mendambakan bisa hidup di sebuah Negara yang aman, tentram, dan penuh berkah. Sebagaimana setiap orang juga pasti merindukan hidup bahagia dalam sebuah jalinan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hanya saja perlu digaris bawahi bahwa sebuah Negara yang penuh berkah tampaknya tidak akan terwujud apabila tidak ditopang oleh pilar-pilar rumah tangga yang berkah pula. Di dalam keluarga seperti ini akan ditemukan kehangatan dan kasih sayang yang wajar, tiada rasa tertekan, tiada ancaman, dan jauh dari silang sengketa serta perselisihan. Dalam keluarga semacam inilah akan tumbuh ketenangan batin bagi seluruh anggota keluarganya, sehingga tercipta ketenangan yang diliputi mawaddah, warahmah. Atau cinta dan kasih sayang. Sayangnya, kadang-kadang kita tidak sangat serius menentukan visi keluarga. Bercengkerama dengan keluarga saja sisa tenaga, sisa pikiran, semua serba sisa. Lantas apa yang dapat diperoleh dari sesuatu yang serba bisa?

Tidak sedikit suami yang menganggap pendidikan anak hanyalah tanggung jawab istri, sedangkan kewajibannya sebagai suami mencari nafkah. Seharusnya, seorang suami lebih serius lagi untuk menjadi suri teladan bagi keluarganya. Jangan sampai menimbulkan kekecewaan pada anak terhadap figur ayahnya. Tidak perlu merasa bangga jika telah menjadi suami yang bisa membuatkan sebuah rumah mewah bagi keluarga, membelikan mobil, atau menanggung semua biaya hidup mereka.

Bila sang ibu bisa bersikap lembut, maka seorang ayah juga jangan kalah lembutnya walau harus tetap tegas. Saat memanggil istri, jangan sampai seorang suami menggunakan panggilan sembarangan. Karena walau bagaimanapun, seorang anak pasti mempunyai kebanggaan terhadap ibunya.

Sebaiknya, Ayah dan Ibu di rumah berlomba-lomba memberi contoh bagaimana dapat saling memuliakan suami dan demikian juga sebaliknya. Kegigihan orang tua dengan serius membuat program suri teladan bagi anak-anaknya adalah sebuah pendidikan yang tidak ternilai. Hal ini insya Allah akan membantu sebuah keluarga menjadi lebih baik dari sebelumnya.secara sistematis,seorang ayah harus terus menambah ilmu dan mencari dana lebih banyak untuk memperbaiki akhlak keluarganya.

Sudah waktunya kita menyadari bahwa runtuhnya suatu bangsa diawali dari hancurnya tatanan rumah tangga di masyarakatnya.untuk mencapai keluarga atau rumah tangga yang di berkahi Alloh,tentu di perlukan persiapan ilmu dan pengetahuan yang cukup.